Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2011

wanita butuh lebih banyak sentuhan

Bagi bayi dan anak-anak, kontak fisik dapat berarti hidup atau mati. Seorang dokter di New York, AS, mendapatkan fakta itu secara tidak sengaja. Ketika itu tahun ’40-an, ia heran melihat tingginya angka kematian bayi prematur di sebuah rumah sakit. Sambil mencari penyebabnya, ia memerintahkan agar setiap bayi di situ digendong beberapa kali sehari. Ternyata tingkat kematian bayi-bayi prematur itu menukik tajam hampir ke angka nol.
Dalam suatu penelitian di Universitas Purdue, seorang petugas perpustakaan diminta menyentuh tangan sejumlah mahasiswa yang meminjam dan mengembalikan buku. Rupanya sentuhan yang biasa sajapun dapat mencerahkan hati. Mahasiswa-mahasiswa itu mengatakan, suasana perpustakaan menyenangkan dan petugasnya ramah. Padahal petugas tidak mengobral senyum atau bersikap ekstra ramah.
Wanita memiliki kebutuhan lebih besar untuk disentuh dibandingkan pria, sebab mereka punya lebih banyak ujung syaraf di setiap inci kulitnya. Perbedaan kebutuhan sentuhan pada pria dan wanita itu dapat juga diteliti dari sikap masyarakat umumnya. Seperti sudah menjadi hal yang umum terlihat, wanita sudah diperkenalkan pada bahasa cinta – yang mengekspresikan perasaannya melalui fisik – sejak mereka masih kecil. Biasanya, sebelum ayah ke kantor, anak perempuan diminta mencium pipi dan memeluknya. Ketika jalan-jalan, anak perempuan otomatis menggandeng ayahnya. Saat beranjak remaja, perempuan lebih leluasa memeluk, memegang tangan atau mencium pipi kawannya sesama wanita.
Di masa pacaran, sentuhan adalah sinyal bahwa dua orang yang bergandengan tangan merupakan sepasang kekasih. Bagi pasangan baru, sentuhan sangatlah berarti. Pada hubungan yang sudah berlangsung lama, hal yang sama bisa berlaku juga. Cinta pasangan sering diukur melalui sentuhannya. Masih adakah cinta itu atau sudah lenyap.
Sita (29 tahun) bercerita, “Saya dan Bambang pergi ke suatu pesta yang dihadiri teman-teman Bambang. Saya diperkenalkan kepada mereka sambil ia melingkarkan tangannya di pinggang saya. Wah, saya merasa istimewa sekali.”
Petunjuk pertama yang ditangkap Sita bahwa Bambang menyukainya adalah melalui sentuhannya. Begitu juga sebaliknya ketika hubungan mereka merenggang. Sita cepat mengetahui hal itu lewat sentuhannya juga. “Ketika kami sedang berjalan pulang,” kenang Sita, “saya memegang tangannya, ia menepis. Itu terjadi beberapa kali pada kesempatan yang berbeda. Jadi, ketika ia memutuskan hubungan kami, saya tidak terkejut”.
Masa KecilSentuhan adalah sama pentingnya dengan makanan. Tanpa sentuhan, manusia bisa terkena skin hunger. Ia jadi pemurung, gelisah dan pada tingkat tertentu mengalami depresi, insomnia (susah tidur) dan penyakit fisik. Sentuhan dalam dosis yang cukup setiap harinya sama artinya dengan tubuh mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga secara teratur.
Hal itu dikatakan oleh Direktur Touch Research Institute di Miami, Amerika Serikat (AS),  Tiffany Field.
Untuk memuaskan skin hunger setiap orang dapat melakukan untuk dirinya sendiri dengan memijat. Suasana hati dan kesehatan tubuh akan terasa lebih baik. Tindakan ini efektif, khususnya untuk Anda yang sedang merasa kecewa atau kesepian.
Upaya lain yang dianjurkan Field adalah memanjakan diri di salon atau berendam di air beraroma (spa). Cara itu membantu kulit merasakan sentuhan lembut yang dapat menguatkan hati.
Alternatif lain adalah dengan menjaga anak-anak (bisa keponakan, anak sendiri atau anak tetangga). Memeluk dan menggendong anak akan menyenangkan hati Anda dan membantu anak itu tumbuh normal. Keajaiban sentuhan selalu berarti secara timbal-balik.
Kadangkala frekuensi dan intensitas hubungan intim menurun. Pasangan jadi jarang berhubungan seks. Keadaan itu bisa diisi dengan saling menyentuh, umpamanya dengan membelai rambut atau mengelus pipi.
Pada usia enam tahun perkawinan Dina dan Toto, kesibukan karier mereka meningkat. Keduanya harus pergi-pulang ke rumah di pinggiran kota setiap malam, maka mereka merasa terkuras waktu dan energinya untuk bercinta.
“Paling-paling kami hanya saling bersandar atau membelai. Saya rasa itu cara yang baik untuk selalu merasa dekat,” kata Dina.
Tapi tak semua orang dapat dengan mudah menunjukkan perasaannya secara spontan. Hal itu berkaitan erat dengan pola kehidupan keluarganya. Orang yang dibesarkan dalam keluarga yang keras atau kaku sifatnya, tak mudah melakukan hal itu. Pasangan orang-orang jenis itu harus lebih banyak memulai menyentuh dan memeluknya agar kelak mereka dapat berlaku normal secara bertahap.


Sumber: Wanita Butuh Lebih Banyak Sentuhan | Psikologi http://keluargacemara.com/

kencan remaja

Ani seorang gadis belia yang baru duduk di kelas 3 SMP. Tetapi pada usia segitu ia telah mempunyai pacar, sebuah “cinta monyet” tentu saja. Suatu hari, ketika mereka sedang kencan di rumah Ani pada malam Minggu , pacar Ani mencium bibir Ani dengan pelan. Celakanya, kejadian ini kepergok ibu Ani dan ibu Ani merasa agak “shock”. Ia merasa putrinya masih terlalu kecil untuk melakukan kegiatan tersebut. Ia lansung memarahi Ani. Ibu Ani takut jika kegiatan ini akan berlanjut ke kegiatan seksual. Ani pun protes. Sebab menurutnya, ciuman dari pacarnya itu hanya sebuah ungkapan kasih sayang dan bukan rasa nafsu. Selain itu ia merasa telah cukup dewasa untuk “dicium” oleh kekasihnya. Baik Ani maupun ibunya merasa bingung akan definisi kencan yang pantas.
Usia belasan tahun adalah fase kritis dalam perkembangan mental dan fisik manusia. Usia remaja adalah fase dimana anak-anak mulai tumbuh, mereka mengembangkan keinginan untuk memiliki independensi dan ingin mengeksplorasi segala hal. Mereka ingin menjawab pertanyaan dasar, “Siapa Aku?”.
Disinilah orang tua dapat berperan besar dengan membuka pintu komunikasi selebar-lebarnya. Sebab dengan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak, segala masalah yang sering terjadi pada masa remaja itu akan terpecahkan. Di bawah ini ada beberapa tip agar orang tua dapat berdiskusi secara baik dengan anaknya.
1. Apa arti kencan itu sebetulnya? Tanya anak anda, apa definisi kencan menurutnya dan beri juga definisi anda. Katakan kepada anak anda mengenai aturan yang telah anda tetapkan dalam relasi anak anda dengan pacarnya. Misalnya anda tidak mau anak anda pergi ke luar kota berdua saja walaupun siang hari. Hal yang paling pokok dalam menerapkan aturan ini adalah, orang tua harus konsisten dan jelas dalam menerapkan aturan yang telah ditetapkannya apapun isinya.
2. Perilaku apa yang dapat diterima? Seperti contoh Ani dan ibunya diatas. Ibu Ani merasa keberatan Ani berciuman dengan pacarnya. Masalah sebenarnya adalah bukan hanya sekedar ciuman saja tetapi adalah komunikasi yang jujur dan dapat dipercaya antara ibu-anak. Biasanya pada fase usia belasan tahun (adolescent), minat mereka terhadap masalah seks mulai timbul. Orang tua dapat mendiskusikan masalah tentang seks dan hubungan intim dengan anak mereka. Perhatikan juga reaksi mereka. Jika terlihat anak anda merasa tidak nyaman, jangan beri mereka dengan monolog yang panjang. Jangan beri kesan bahwa anda sedang menegur/mengomelinya. Jika terlihat anak anda kelihatan berminat, langsung pembicaraan dipusatkan ke titik masalah. Misalnya seperti kasus Ani dan ibunya. Ibunya sebetulnya tidak usah lansung marah-marah tetapi ajak Ani berbicara secara hati ke hati. Katakan saja bahwa sebagai ibu ia merasa khawatir jika Ani membiasakan berciuman ketika kencan karena sebagai ibu ia khawatir kebiasaan tersebut akan dapat membawa Ani ke aktifitas seksual yang lebih jauh.
Anak remaja, terutama remaja putri, harus tahu bahwa penghormatan terhadap dirinya adalah hal yang amat penting. Berbicara kepada anak remaja tentang tekanan-tekanan atau masalah yang sering terjadi di dalam pergaulan remaja seperti masalah seks, obat-obatan dan alkohol. Katakan kepada anak remaja anda, bahwa kalau mereka ingin identitas diri mereka tetap terjaga maka mereka harus menolak pengaruh negatif teman-temannya atau pacarnya. Landasan moral dan agama di dalam rumah tangga semestinya harus kuat. Jelaskan juga kebiasaan dan perilaku positif yang semestinya dilakukan oleh seorang remaja. Misalnya, seorang Ibu dapat menjelaskan bahwa bepergian ke luar rumah pada malam Minggu adalah hal yang wajar dalam berpacaran. Tetapi hal yang negatif seperti pulang larut malam (misalnya di atas jam 12 malam) berdua saja dengan pacar adalah hal yang kurang baik.


Sumber: Kencan Remaja | Gaya Hidup http://keluargacemara.com/

Rabu, 25 Mei 2011

anak angkat dan anak pancingan

Setelah enam tahun mengarungi bahtera rumah tangga tanpa dikaruniai anak, pasangan suami-istri Danu – Lola memutuskan menuruti kata para orang tua untuk “memancing” anak. Cara ini mereka lakukan sebagai upaya terakhir untuk mendapatkan anak kandung. Mereka pun mengambil salah satu anak sepupu untuk diasuh.
Ternyata benar! Setahun sejak saat itu, rumah tangga mereka diramaikan tangis lantang bayi pasangan Danu – Lola.
Konflik sebelum mengangkat anak
Mereka yang tidak kunjung punya anak, padahal tidak dinyatakan mengalami gangguan organ reproduksi, akan mengalami kondisi psikologis yang sulit. Sebaliknya, keputusan untuk mengangkat anak pun seyogyanya jangan dilakukan secara gegabah.
“Soalnya ada beberapa tingkat konflik yang harus dilalui pasangan dalam mengangkat anak untuk memancing anak,” tutur psikolog Ieda Poernomo Sigit Sidhi.
Siapa pun pasti berat menerima kondisi itu. Maka, menurut Ieda, reaksi pertama adalah menggugat, mengapa ia yang harus mengalami? “Pertanyaan itu malah bisa jadi masalah baru. Jawaban atas pertanyaan itu adalah hak Tuhan untuk menentukan. Jadi, untuk menyelesaikan tahap ini perlu dasar keimanan yang kuat. Ia harus bisa menerima bahwa memang tidak diberi anak.”
Kalau tahap itu terselesaikan, muncul konflik kedua, yaitu munculnya harapan baru. Ini karena adanya pandangan masyarakat tentang kebiasaan mancing anak. “Konfliknya, ya kalau berhasil, bagaimana kalau tidak? Bila ini bisa diatasi, antara lain istri tidak peduli apakah akan berhasil atau tidak, yang penting mengangkat anak,” ujar Ieda lagi.
Kemudian memilih anak mana yang akan diangkat juga memerlukan pertimbangan tersendiri. Misalnya, pertimbangan tentang asal-usulnya. Apakah anak dari keluarga sendiri, kenalan, atau institusi? Masing-masing pilihan itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kalau masih ada kaitan keluarga, bisa diketahui persis jalur genetika anak itu, sedangkan anak dari institusi tidak. Di samping itu kemungkinan masih ada perangkat formal adopsi yang menghadang. Saat ini ada pandangan, hasil akhir perilaku anak itu 50% ditentukan oleh faktor genetika, sedangkan 50%-nya lagi dipengaruhi oleh lingkungan.
Pikirkan juga suami, apakah ia siap mengangkat anak? Bila tidak, ia akan selalu sulit menerima si anak. “Hal ini tentu berpengaruh terhadap perjalanan keluarga itu selanjutnya.”
Psikis pengaruhi fisik?
Pada kasus pasangan di mana istri berhasil hamil dengan cara memancing anak, Ieda mengaku, belum ada penelitian resmi yang menyatakan langsung saling mempengaruhi. “Asumsinya psikis memang mempengaruhi fisiologis,” tuturnya sambil memberi contoh ada orang yang kalau sedih bisa mendapat haid beberapa kali, namun ada juga yang berhenti sama sekali. Malah dalam kasus yang ekstrem, ada ibu hamil yang ditinggal mati suaminya sehingga mengalami depresi berat hingga keguguran kandungan.
Dengan mengangkat anak, pikiran pasangan itu menjadi tenang. Ketenangan itu yang mungkin memicu pemunculan hormon tertentu untuk terjadinya proses kehamilan yang tadinya kurang.
“Ketenangan ini yang sebenarnya ingin dimunculkan dalam konsep bulan madu. Dengan rileks pengantin baru yang pergi berdua saja diharapkan bisa cepat hamil,” ujar Ieda lagi.
Pendapat paranormal Yenni (40) pun serupa, selain membuat tenang pasangan itu, anak angkat baginya hanya sebuah sarana yang membuatnya makin yakin. “Keraguan pasangan subur itu hilang karena melakukan teladan leluhur, yang biasanya berhasil mendatangkan anak.”
Selain itu, keinginan pasangan itu untuk punya anak bisa terkabul berkat doa keluarga besar anak angkat, yang tentu mendoakan agar si orang tua angkat mendapat berkat dan panjang umur untuk mengasuh si anak pungut dengan baik.
Sejarah keluarga dan pribadi
Namun tak selalu upaya memancing anak memberikan hasil sesuai keinginan pasangan subur itu. Yenni menuturkan, seorang kenalannya telah mengangkat 3 orang anak. Namun hingga kini, jangankan punya anak kandung – hamil pun tak pernah. Padahal adik-adik temannya itu semuanya punya banyak anak.
Ada apa kiranya? Yenni yang punya kemampuan melihat yang tak kasat mata segera melacak sejarah garis keturunan temannya itu. “Teman saya itu punya ayah yang berbeda dengan adik-adiknya. Nah, ternyata sebagian besar keluarga ayah kandungnya itu beranak sedikit,” tuturnya.
Melacak sejarah keturunan keluarga besar itu juga perlu dilakukan, karena jangan-jangan pasangan itu terkena sumpah dari leluhurnya. “Sumpah orang tua yang sangat marah punya energi yang kuat. Bisa saja, kakek menyumpahi orang tuanya, misalnya ‘Biar tahu rasa kalau tidak punya anak!’. Tapi bukannya kena orang tuanya, malah kena dirinya,” Yenni memberi contoh. Kalau sudah begini yang perlu dilakukan adalah meningkatkan keimanan serta berdoa pada Tuhan agar dilepaskan dari ikatan sumpah.
Urusan memiliki anak memang masih misteri. Yenni pun memberi contoh ada pasangan subur yang diramal tidak bakalan punya anak. “Saya bilang, itu urusan Tuhan. Yang penting kita usaha, mendekatkan diri pada Yang Mahakuasa. Ternyata benar, beberapa tahun kemudian ia berhasil mendapatkan anak kandung.”
Ia pun menasihatkan untuk tidak lupa selalu mawas diri dan berpikir positif, “Karena mungkin ia memang diminta Tuhan untuk jadi alat untuk menolong anak-anak yang membutuhkan,” ujarnya sambil memberi contoh ada orang yang tidak punya anak namun memiliki harta yang berlimpah.
Kembangkan ikatan ibu-anak
Terlepas dari berhasil tidaknya upaya itu, Ieda mengingatkan konsekuensi yang harus ditanggung bila mengadopsi anak. Ia menekankan pentingnya konsultasi dengan psikolog, “Ini untuk menimbang berbagai kemungkinan konflik yang timbul di masa depan. Perjalanan hidup seorang anak itu sangat panjang, jadi pertimbangkanlah setidaknya sampai masa dua puluh tahun mendatang.”
Ieda melihat selama ini tindakan mengadopsi dilakukan lebih karena mempertimbangkan kepentingan orang tua. Padahal orang tua sangat perlu mengetahui perasaan anak adopsi yang tentu akan mempengaruhi perkembangan anak itu. Cara termudah untuk mengetahuinya, adalah dengan mengandaikan si orang tua sebagai anak adopsi. Dari sudut pandang itu orang tua akan lebih mudah menata sesuai dengan harapan anak. “Jangan sampai sikap orang tua angkat berubah setelah anak kandung lahir, atau mungkin anak angkat dianggap gagal memancing anak kandung,” ujarnya.
Selain itu orang tua angkat dan anak angkat harus berpijak pada pemikiran, anak bisa hadir melalui berbagai cara. “Yang umum memang lewat kehamilan. Tapi di dunia ini bisa saja Tuhan menghendaki hal-hal yang lain. Jadi, meski bukan anak kandung, anak angkat sudah jadi anak sampai selamanya,” tutur Ieda.
Menurut Ieda, bila orang tua angkat bisa melihat anak angkat sebagai anugerah dari Tuhan bagi keluarga itu, maka tidak akan ada lagi perbedaan antara anak kandung dan angkat. Dari mana pun datangnya, anak adalah titipan Tuhan. Tugas orang tua adalah memberikan bekal supaya ia menjadi manusia yang baik. Pengertian yang betul-betul dewasa akan melahirkan sikap dan perlakuan yang dewasa juga terhadap anak-anaknya.
Umumnya anak-anak sangat peka terhadap perubahan sikap ibu terhadap anak, karena ikatan antara ibu dan anak sangat kuat. Ikatan ini sengaja diberikan oleh Tuhan agar ibu tidak merasa kesal harus hamil selama 9 bulan. “Terus terang hamil sembilan bulan itu banyak susahnya. Tapi dengan ikatan naluriah ibu dan anak, ibu dengan mudah memunculkan rasa sayang sehingga mau menjalani waktu yang lama itu,” tutur Ieda lagi.
Lalu, akan hadirkah hubungan batin itu antara seorang ibu dengan anak angkatnya? Menurut hasil penelitian, ikatan ibu anak tidak otomatis hanya karena proses kehamilan. Ternyata, ibu harus berusaha membangkitkannya, terutama dalam 18 bulan pertama sejak anak itu lahir. Selama masa itu ibu belajar melihat betapa si anak sangat tergantung padanya, butuh kasih sayang, sehingga ia belajar mencintai anaknya. Di sisi lain anak belajar menerima cinta ibu, ia merasakan wanita itu peduli padanya, selalu mau tahu kebutuhannya, dan selalu siap membantunya. Maka terjadilah interaksi saling mencintai.
Pengalaman selama 18 bulan pertama itulah yang menentukan apakah anak akan mempunyai perasaan secure attachment (ikatan yang aman), ataukah anxious attachment (selalu ragu, cemas) mengenai hubungan dengan ibunya.
Kondisi ini membuat posisi ibu kandung bisa tergantikan. “Karena tak semua ibu bisa menunggui anaknya terus,” ujar Ieda sambil memberi contoh ibu yang meninggal karena melahirkan, atau perceraian.
Ini artinya terbuka peluang bagi ibu angkat untuk membantu anak mengembangkan secure attachment. Mungkin itu pula sebabnya, cara terbaik adalah dengan mengambil langsung bayi yang baru lahir.
Lain lagi kalau mengadopsi anak balita. Pada usia ini ia sudah merekam sejumlah pengalaman dalam proses perkembangan sebelumnya. Pada umur 3 tahun muncul kesadaran identitas, bahwa ia berbeda dengan orang lain. Maka kalau ia pernah diasuh oleh seseorang yang berbeda dengan pengasuhan sebelumnya, ia akan dapat kesulitan karena harus mengubah identitas. Sekarang rumahnya, bapak-ibunya yang ini, lalu yang dulu itu siapa? Anak belum bisa mencerna adopsi, yang ia lihat hanya kenyataan. Artinya, anak harus berpindah dan menyesuaikan diri dengan identitas baru.
Akan lebih mudah kalau yang diadopsi kanak-kanak di atas usia balita. Ia tahu persis identitasnya, mengerti perjalanan hidupnya, mengapa ikut bapak ibu yang lain, dsb.
Naluri cari akar
Daripada terus-menerus memikirkan untung-ruginya bagi diri sendiri bila mengangkat anak, adalah manusiawi bila kita juga membayangkan rasanya menjadi anak adopsi. Berbeda dengan anak kandung, suatu kali ia akan merasa kaget, ketika tiba-tiba mengetahui keadaan sebenarnya sebagai anak adopsi.
Konflik yang dirasakannya ialah mengapa ia ditolak, dan diberikan ke orang lain? Menurut Ieda, umumnya anak adopsi tidak pernah bisa mengerti alasan apa pun yang membuat dirinya diberikan kepada orang lain.
Maka tiba-tiba ia merasa menjadi individu yang tanpa identitas. Ia mengalami krisis identitas. Padahal identitas diperlukan manusia dalam mengembangkan sikap dan perilaku untuk penyesuaian diri. Akibatnya anak yang dalam kondisi demikian akan mengalami gangguan sulit menyesuaian diri atau beradaptasi, berekspresi, atau punya gangguan emosional.
Saat itu nasibnya tergantung pada sikap orang tua dan saudara-saudara angkatnya. “Kalau mendukung ia masih bisa terselamatkan. Tapi kalau sebaliknya, maka ia akan makin terperosok,” kata Ieda.
Pada tahap selanjutnya, anak adopsi biasanya punya keinginan untuk mencari orang tua kandung. “Sudah naluri orang untuk mencari akarnya,” tutur Ieda
Hal yang menentukan adalah sambutan dan perlakuan orang tua kandung, “Bisa saja si anak menetap pada orang tua kandungnya, atau kembali ke orang tua angkatnya.” Untuk itu, perlu dijalin kerja sama yang baik antara orang tua biologis dengan ibu yang mengasuh demi keselamatan moril anak. Meski tak dapat dipungkiri, dalam keadaan demikian banyak orang tua angkat dihinggapi perasaan dirinya tidak berarti lagi.
Memang situasi yang tidak mudah. Tak heran bila Ieda menasihati orang tua angkat untuk siap dengan berbagai tahapan yang akan dilalui anak, termasuk bila ia akan mencari orang tua kandungnya.
Berhasil atau tidak, memancing anak rupanya menuntut kemampuan pasangan suami istri untuk mengantisipasi pelbagai masalah psikologis dan emosional yang mungkin timbul. Sementara itu, kapan cara ini berhasil kapan tidak, masih tetap misteri.
Sumber : Shinta Teviningrum (Intisari – November 1999)


Sumber: Anak Angkat dan Anak Pancingan | Kehamilan http://keluargacemara.com/kesehatan/kehamilan/anak-angkat-dan-anak-pancingan.html#ixzz1NRGnPa72
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial

Hubungan Menopause dan Keutuhan Perkawinan

Mengatasi menopause bukanlah hal mudah. Tindakan ini termasuk salah satu ketegangan yang dihadapi suami-istri paruh baya.
Penelitian menunjukkan bahwa 10 hingga 15 persen dari wanita menopause meningkat kegelisahannya. Mereka mengalami insomnia (sulit tidur) dan depresi (merasa sangat tertekan dan sedih). Para psikiater dan dokter sependapat bahwa dalam kasus-kasus begitu, peran suami amatlah penting.
Bagi banyak wanita, awal menopause (mati haid) bukanlah sekadar tanda berakhirnya masa kemampuan memiliki anak. Ia juga merupakan pengalaman yang menyakitkan perasaan dan fisiknya.
Seks tidak pernah merupakan masalah bagi Henry Ong dan istrinya. Namun ketika istrinya menginjak usia 50 tahun, dia mulai sering mengeluh sakit ketika berhubungan intim. Ia juga berubah jadi pemurung, suka menyendiri, dan mudah cemas. Sakit pada punggung adalah keluhan yang sering disampaikan Ny.Ong.
Henry menganjurkannya periksa ke dokter. Namun tidak terjadi perbaikan setelah itu. Kata dokter, ada gejala menopause pada Ny. Ong, dan hal itu bisa berlangsung beberapa bulan.
Dokter Pauline Sim, psikiater di Rumah Sakit KK, Singapura menjelaskan, menopause adalah suatu masa ketika siklus menstruasi dan reproduksi wanita berhenti. Umumnya terjadi di penghujung usia 40 tahun. Tapi gejala psikologisnya sudah dimulai beberapa tahun sebelum itu. Ketika tingkat hormon wanita berfluktuasi (turun-naik) dan haid menjadi tidak teratur datangnya, kaum wanita bisa menjadi lebih gelisah, insomnia dan depresi. Tapi tidak semua wanita mengalami perubahan psikologis itu.
Dijelaskan oleh Dokter Kok Lee Peng, psikiater di Rumah Sakit Gleneagles, sebanyak 50 persen dari wanita-wanita yang terpengaruh perubahan itu mengalami hot flush, yaitu sekujur tubuh tiba-tiba terasa panas dan kemudian mengeluarkan banyak keringat.
Perubahan lainnya adalah osteoporosis atau tulang-belulang merapuh, sakit pada punggung, dan terjadi penipisan dinding vagina. Hal itu membuat hubungan intim terasa menyakitkan.
Para psikiater itu sependapat bahwa untuk para istri itu, peran suami adalah penting. Dokter Sim mengatakan melihat banyak wanita menopause yang sedemikian bingungnya hingga berkali-kali ganti dokter untuk mengatasi masalahnya sesegera mungkin. Bahkan ada yang sampai mau meloncat ke luar mobil yang sedang berjalan.
Mengatasi menopause adalah salah satu daftar ketegangan yang dihadapi suami-istri paruh baya, kata psikoterapis Ang Thiam Hong yang telah menangani 200 kasus krisis perkawinan pada pasangan paruh baya. Menurutnya, ketika anak-anak sudah besar dan sudah meninggalkan rumah, menyesuaikan diri kembali untuk hidup sebagai suami-istri bisa merupakan masalah. Selain dari tekanan masalah akibat keluhan menopause itu, ada pula kemungkinan terjadi ketidakseimbangan dalam kebutuhan seks suami-istri.
“Istri sering merasa seperti kehilangan bahwa ia tidak dapat melahirkan lagi. Dia bisa saja mencari suaminya untuk mendapatkan keintiman tapi dengan menopause, gairah seksnya berkurang,” jelas Ang. Sebaliknya, suami bisa membangun hubungan baru dengan wanita lain yang lebih muda, untuk meyakinkan dirinya bahwa dia masih memiliki daya tarik.
Mengatasi masalah menopause, para penasehat itu menekankan pentingnya suami-istri membicarakan masalah itu. Bagi istri yang gejala menopausenya menyakitkan, suami perlu menolong dengan belajar lebih banyak tentang kondisi itu.
Kata dokter Sim, “Sebaiknya suami tidak berkata, ‘Jangan mengeluh. Ini soal pikiran kamu saja’, atau ‘Bagaimana mungkin. Ibu saya dan kakak saya yang perempuan tidak punya masalah begitu’. Kalimat-kalimat seperti itu bisa menyinggung perasaannya karena bukan kehendak dia menjadi seperti itu. Temani saja istri Anda dan jangan mencelanya.”


Sumber: Hubungan Menopause dan Keutuhan Perkawinan | 

Menghadapi Anak yang Memasuki Masa Puber

Tugas paling sulit yang sering dihadapi oleh orang tua dalam membesarkan anak adalah pada saat anak berangkat dewasa ( usia remaja / belasan tahun ). Di satu sisi anak masih berada dalam dunia kanak-kanaknya tetapi di sisi lainnya ia mulai masuk ke alam kedewasaan. Suasana peralihan seperti ini sering membingungkan para orang tua karena berubahnya sikap anak. Ia bukan anak kecil yang dapat “dikendalikan” oleh orang tuanya malah kadang cenderung untuk melawan setiap pendapat orang tuanya. Keluhan-keluhan dari orang tua seperti ini, “Aduh, Bobi membuat saya hampir gila”, “Saya khawatir dia akan jadi apa nantinya?”, sering kali terdengar.
Dua issue utama pada remaja yang terkait dengan perkembangan adalah masalah individu dan seksualitas. Umumnya para remaja mulai “menarik diri” dari banyak nilai-nilai ( values) yang selama ini didapatkannya. Pada tahun-tahun “rawan” ini para remaja malah mengambil nilai-nilai dari peer groupnya ( kelompok ) dan budaya pop yang melingkar disekitar hidupnya. Ia mulai enggan untuk bergabung dengan acara-acara keluarga dan malah lebih sering bergabung dengan teman-temannya. Ia malah bertanya, “Apa saya harus ikut?” yang sering membuat orang tua sebal.
Dalam hal seksualitas, para remaja sering menerima pesan-pesan yang beragam. Dari orang tuanya atau Agamawan ia menerima satu pesan, tetapi di lain pihak ia menerima pesan dari berbagai media seperti tv, film, teman sekelompoknya dll. Untuk itu resep jitu bagi orang tua adalah mau terbuka terhadap anak remajanya agar ia dapat menyerap pesan yang baik dan jika ia bingung ia hanya berpaling kepada orang tuanya. Bagi kita orang Indonesia, pesan-pesan relijius dan moral dapat mencegah anak menyalah artikan pesan-pesan yang berhubungan dengan masalah seksualitas tersebut. Misalnya berbagai film di tv, terutama film-film seri remaja dari luar, disitu digambarkan bahwa berhubungan intim sebelum menikah adalah sah-sah saja. Disinilah tugas orang tua untuk menyiapkan dan melatih daya serap anaknya sedini mungkin. Jika sejak awal anak diberi pengertian yang memadai baik dari aspek rohani maupun kesehatan mungkin ia akan terhindari dari pengaruh negatif. Walaupun bukan tak mungkin lingkungan di luar rumah juga dapat mempengaruhinya. Meskipun begitu bukan berarti acara-acara televisi seperti itu tidak boleh ditonton sama sekali. Ambil segi positifnya seperti pesan tentang kesetiakawanan, gotong royong, kasih sayang dll.
Meskipun dikatakan bahwa masa remaja adalah “masa-masa penuh chaos” tetapi umunya para remaja dapat melewati fase ini dengan selamat. Meskipun begitu ada beberapa perilaku yang membutuhkan perhatian orang tua seperti : nilai pelajaran yang menurun, menarik diri dari pergaulan, gangguan pola makan dan yang berbahaya adalah penyalah gunaan obat-obatan dan alkohol. Untuk kedua hal ini orang tua harus menerapkan “zero tolerancy policy” ( tiada toleransi ). Konsep egaliterisme memang menempatkan manusia sederajat tetapi bukan berarti orang tua dan anaknya selalu sederajat. Mereka sederajat dalam pengertian sebagai umat manusia tetapi dalam bidang otoritas orang tua tentu tidak sama dengan anaknya. Ini yang harus disadari oleh orang tua walaupun bukan berarti orang tua harus menjadi otoriter. Orang tua mempunyai aturan-aturan, keputusan-keputusan dimana sang anak harus menghormatinya. Jika anak remaja dan anda terlibat konflik sehubungan dengan keputusan dan aturan yang anda buat yakinkan bahwa anda tidak setuju tanpa harus menjadi tidak dihormati oleh anak anda. Jika anak remaja anda makin kurang ajar, akhiri diskusi dengan mengatakan, “Bapak / Ibu tidak menganggap kamu secara tidak hormat tetapi bapak / ibu tidak mau kamu tidak menghormati kami. Diskusi ini selesai sampai kamu dapat menghormati kami dan berpikir secara jernih!” Sikap tegas dari orang tua dapat mengajarkan anak remaja anda untuk lebih menghormati orang tuanya selain menerapkan aturan dan keputusan orang tuanya tersebut. Karena itu sikap tegas orang tua memang diperlukan untuk menjadikan pribadi anak remaja mereka lebih dewasa dan tidak salah melangkah di alam kedewasaan.


Sumber: Menghadapi Anak yang Memasuki Masa Puber | Pilihan http://keluargacemara.com/featured/menghadapi-anak-yang-memasuki-masa-puber.html#ixzz1NRCQ5Gd7
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial