Tampilkan postingan dengan label ibuanak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibuanak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2011

Permainan kreatif untuk anak (6 – 12 bulan)


December14
USIA 6-12 BULAN
Diusia 6-12 bulan, tahap perkembangan motorik kasar pada anak yang ditandai dengan kemampuan untuk duduk, merangkak, berdiri dan mulai untuk berjalan.
Sedangkan untuk motorik halusnya ditandai dengan kemampuan anak untuk meraih, memegang dan menggenggam. Disamping itu kemampuan kognitifnya pun semakin berkembang dengan ia mulai tertarik untuk mengenali dirinya dan lingkungan sekitarnya.Untuk meningkatkan dan mengoptimalkan perkembangan dan pertumbuhan tersebut maka kita dapat menstimulasi nya dengan permainan-permainan yang disesuaikan dengan usianya.
Adapun permainan yang dapat anda coba di usia ini adalah :
1. RAIH GENGGAM
Anak sangat senang dengan mainan yang berwarna-warna cerah, untuk melatih otot-otot nya dan kemampuannya untuk meraih dan menggenggam, dekatkan mainan tersebut ke anak sehingga ia tertarik untuk meraih dan mengambilnya. Permainan ini juga dapat diberikan pada saat anak belajar merangkak.
2. KAPAL TERBANG
Pada usia ini, bayi dapat anda telungkupkan dia tangan anda dan ayun dia perlahan seolah-olah dia sedang naik kapal terbang. Gerakan ini tentu akan membuatnya senang dan tertawa riang. Permainan ini untuk menguatkan otot punggung dan leher.
3. CI LUK BA
Permainan Ci Luk Ba ini sangat sederhana namun sangat disukai anak-anak. Dia akan mencari wajah anda pada saat anda tutup muka anda dengan tangan dan akan tertawa pada saat anda membuka tangan untuk membuka wajah anda.
4. BERENANG
 Di usia 6 bulan anak-anak sudah bisa diajak berenang, untuk itu persiapkan ban renang (yang dilingkarkan di leher anak), bola renang. Ajak anak untuk menggerak-gerakkan kaki dan tangannya dia air.
5. SUSUN BALOK
6. BERMAIN DENGAN MAINAN
Untuk permainan yang menggunakan mainan seperti bola ataupun boneka sebaiknya perhatikan beberapa hal :
- Pilihlah dengan warna terang sehingga dia tertarik untuk memainkannya.
- Ukurannya jangan terlalu kecil karena dapat tertelan oleh si anak karena diusia ini dia belum dapat membedakan mana mainan dan mana makanan
- Pilih mainan yang dapat digigit tanpa membahayakannya.
Masih banyak permainan lain yang dapat dilakukan agar si kecil senang dan melatih motoriknya. Selamat mencoba mom..

Aneka Sarapan Anak (2)


February17
Beberapa menu dibawah ini merupakan variasi yang dapat dibuat selain dari menu pada Aneka Sarapan Anak(1). Menu dibuat sangat sederhana dan sedemikian mudah agar gampang dan tidak memakan waktu lama pada penyajiannya namun tetap mengandung gizi buat si kecil.
MENU 1 : JAGUNG MANIS
Cara membuat : Kupas lalu bersihkan Jagung, Kemudian rebus Jagung manis dan angkat bila sudah matang.
Kemudian sisir jangung dan sajikan di mangkuk dengan ditaburi meses, keju dan sedikit susu kental manis.

MENU 2 : KETAN GULA MERAH KEJU

Bahan :
1/2 liter beras ketan
100 ml santan
1 lbr daun pandan
Garam secukupnya
Cara membuat :
Ketan direndam selama 15 menit, lalu kukus setengah matang, angkat.
Setelah itu masak santan, daun pandan dan garam, santan di aduk terus menerus agar santan tidak pecah.
Angkat setelah mendidih.
Masukan santan ke dalam ketan, aduk-aduk hingga santan habis terhisap ketan.
Kukus kembali hingga matang. Bentuk ketan bulat dan sajikan di piring.
Tuangkan sedikit gula merah yang sudah dicairkan kemudian taburi keju parut.
Siap untuk disantap.
MENU 3 : SANDWICH
Bahan :
Roti, keju, slada, tomat, telor, mayonaise
Cara membuat :
Masak telor menjadi telor mata sapi. Ambil setangkap roti, olesi dengan mayonaise.
Olesi lembaran roti pertama dengan mayonaise kemudian slada, lalu ambil tomat dan roti mata sapi letakkan diatasnya, letakkan lagi keju kemudian tutup dengan lembaran roti yang sebelahnya yang telah diolesi mayonaise. Potong menjadi 4 bagian. Agar isi tidak bergerak kemana-mana boleh ditusuk dengan tusuk gigi diatasnya. Selamat mencoba.

MENU 4 : PISANG REBUS KEJU

Cara membuat : Cuci pisang raja, kemudian rebus pisang hingga matang. Angkat.
Kemudian kupas kulitnya, potong-potong lalu taburi keju bisa ditambahkan sedikit meses.
Selamat sarapan Nak…

Manfaat Minyak Ikan

Kandungan utama minyak ikan adalah Omega-3. Tubuh kita tidak dapat memproduksi sendiri Omega-3 untuk itu tubuh perlu mendapatkan suplemen tambahan. Jenis asam lemak Omega-3 yang bermanfaat bagi tubuh ada 2 jenis yaitu DHA dan EPA, yang keduanya terdapat di minyak ikan.
DHA merupakan asam lemak yang berfungsi untuk menjaga kesehatan saraf dan mata. EPA merupakan asam lemak yang menyehatkan jantung, menurunkan peradangan pembuluh darah dan mencegah depresi. Minyak ikan terbuat dari ekstrak hati ikan kod atau daging ikan halibut yang memang sangat bermanfatt bagi anak.
Manfaat Minyak Ikan menurut studi baru menunjukkan bahwa minyak ikan dapat membantu menurunkan tekanan darah pada anak dengan kelebihan berat badan. Selain itu juga mengkonsumsi minyak ikan dapat mencegah gangguan perilaku pada anak seperti rasa kecemasan. Hiperaktif pada anak diduga karena kekurangan asupan asam lemak Omega-3.
Minyak Ikan juga mengandung vitamin A dan vitamin D. Vitamin A itu sendiri berfungsi untuk membantu proses perkembangan mata dan kesehatan pencernaan. Vitamin D bermanfaat untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi. Tingginya kadar vitamin A dan vitamin D pada minyak ikan sehingga untuk mengkonsumsi minyak ikan kita perlu berkonsultasi dengan dokter agar sesuai dengan kebutuhan anak baik dosis ataupun frekuensi pemberiannya.
Yang perlu diperhatikan adalah untuk penyimpanan dari minyak ikan ini, sebaiknya wadah selalu di tutup rapat dan diletakkan di tempat sejuk untuk menghindari oksidasi sehingga manfaat minyak ikan dapat terjaga dan konsultasikan ke dokter untuk mengkonsumsinya.

Memilih Kursus Sesuai Karakter

Sebagai orangtua, kita sering berusaha untuk melengkapi anak dengan berbagai kursus-kursus untuk mengoptimalkan kemampuan, bakat dan ketrampilannya selain dari pendidikan formal yang dia ikuti selama ini. Agar kursus yang dijalaninya benar-benar optimal ada baiknya disesuaikan dengan karakter dan kepribadiannya.
PENAKUT
Cirinya : Anak tidak berani menghadapi konflik, mudah cemas, gampang menangis, kurang berusaha dan suka mengeluh.
Solusinya : Pilihlah kursus yang beresiko tinggi untuk mengatasi rasa takutnya seperti beladiri, pencinta alam, menyelam dan lain-lain.
KURANG PEKA
Cirinya : Tidak ada ekspresi, kurang empati, tidak segera mengerjakan instruksi dari orang lain. Anak yang kurang peka biasanya kurang mendapat stimulasi dari lingkungannya sehingga kurang ekspresif.
Solusinya : Pilihlah kursus yang berhubungan dengan dunia seni seperti seni tari, musik dan lain sebagainya.
PEMALU
Cirinya : Agak susah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru, pasif dalam merespon teguran sekelilingnya, jarang berbicara dan sulit bersosialisasi.
Solusinya : Pilihlah kursus yang melibatkan interaksi satu dengan yang lainnya, dengan begitu anak akan belajar menjalankan perannya bergantian dan lebih interaktif, seperti teater. Hindari kursus yang bersifat individual.
EGOIS
Cirinya : Semua dilakukan hanya mengarah kepada dirinya sendiri dan mengutamakan kepentingannya sendiri.
Solusinya : Cari kursus yang melibatkan perasaannya misalnya olahraga berkelompok seperti basket. Anak akan berusahan untuk berbagi bola karena permainan dilakukan sebagai sebuah team.
PERCAYA DIRI
Cirinya : Mudah bersosialisasi dan spontan dalam mengemukakan pendapat serta berani mencoba tantangan.
Solusinya : Anak seperti ini akan lebih mudah untuk memilih kursus apa pun sesuai dengan minatnya. Dengan kursus diharapkan anak akan lebih bertambah percaya diri dan skillnya.
AGRESIF
Cirinya : Gampang marah dan percaya diri yang terlalu berlebihan.
Solusinya : Apabila agresif ke arah fisik maka arahkan ke kursus olahraga untuk menyalurkan kekuatan fisiknya, bila agresif ke arah perasaannya maka pilihlah kursus kesenian yang dapat mengasah perasaannya.
Dalam memilih dan mengikuti kursus tidak semua langsung berjalan lancar dan mulus. Apabila semangat anak yang awalnya tinggi kemudian menurun maka ajaklah anak untuk berdiskusi untuk menentukan langkah selanjutnya agar anak juga dapat merasa nyaman menjalani kursus tersebut sehingga hasilnya bisa mengoptimalkan kemampuan dan bakat si anak.

Rabu, 27 April 2011

10 Hal Tabu dalam Mendidik Anak

Apa yang akan terjadi jika anak dibesarkan dalam kondisi yang dipenuhi dengan kekerasan? Tentu, ia akan mengadopsi cara-cara yang sering ia lihat ke dalam kehidupannya kelak. Meski tak selalu, lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya, termasuk bagaimana orang tua mendidik mereka. 

Anak yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang nyaman tentu berbeda dengan anak yang selalu diberi hukuman fisik oleh orang tuanya. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang tidak tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan. 

Nah, berikut ini adalah 10 hal yang harus dihindari dalam mendidik anak: 

1. Terlalu lemah Misalnya, selalu memenuhi semua permintaan anak. Anak tidak diajar untuk mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi terlalu penuntut, impulsif (gampang melakukan tindakan tanpa perhitungan), egois, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain. 

2. Terlalu menekan Misalnya, orang tua terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginannya sendiri, atau untuk mengembangkan minat dan kegiatan yang ia inginkan. Akibatnya, anak akan menjadi lamban, selalu bekerja sesuai perintah, tidak memiliki pendirian, dan suka melawan. 

3. Perfeksionis Orang tua menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang umumnya melebihi kemampuan yang wajarnya dimiliki anak. Akibatnya, anak akan terobsesi untuk meraih prestasi yang diharapkan orang tuanya. Ia juga akan menjadi terlalu keras dan kritis terhadap dirinya sendiri. 

4. Tidak memberi perhatian Orang tua hanya menyediakan sedikit waktu untuk memperhatikan setiap perkembangan anak, atau membantu anak menempuh tahap demi tahap perkembangannya. Akibatnya, anak tak mampu membina hubungan dengan lingkungannya dan akan tumbuh menjadi anak yang impulsif. 

5. Terlalu cemas akan kesehatannya Orang tua terlalu berlebihan mencemaskan kondisi fisik anak. Padahal, secara obyektif, anak sehat. Sakit sedikit saja, orang tua cemasnya minta ampun. Akibatnya, anak akan mudah merasa tak sehat dan ikut merasakan kecemasan yang sama. Enggan bermain, takut jatuh, dan sebagainya. 

6. Terlalu memanjakan Misalnya, terus-menerus menghujani anak dengan barang-barang mahal atau memberikan pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak. Akibatnya, anak bisa menjadi anak yang gampang bosan, kurang inisiatif, dan tak memiliki daya juang. 

7. Tidak pernah memberi kepercayaan Orang tua selalu meramalkan kesalahan yang belum tentu dilakukan anak. Orang tua juga selalu mengritik anak, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu kritikan. "Kamu, sih, nanti kalau jatuh, bagaimana?" Akibatnya, anak akan menjadi seorang yang pesimis, rendah diri, dan cenderung mengembangkan hal-hal yang selalu dilarang orang tua. 

8. Menolak kehadiran anak Misalnya, jenis kelamin anak tak sesuai dengan harapan orang tua, sehingga orang tua cenderung menolak menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga. Akibatnya, semua tindakan yang dilakukan orang tua selalu merugikan anak. Anak bisa rendah diri dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap orang tua. 

9. Suka menghukum Orang tua bersikap agresif terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak, dan cenderung memilih memberikan hukuman fisik dengan alasan mengajarkan disiplin. Bisa-bisa anak akan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar dilakukan dan akan melakukan hal yang sama terhadap keluarganya kelak. 

10. Suka menggoda Orang tua cenderung melecehkan keberadaan anak dengan sering mengolok-olok dan mengungkapkan kekurangan anak di depan orang banyak. Akibatnya, anak akan merasa tidak dihargai dan rendah diri. 

10 HAL YANG DIINGINKAN ANAK 

Sebagai orang tua, kebanyakan dari kita lebih memperhatikan perilaku anak, dan bukannya perilaku kita sebagai orang tua. Tentu ini sesuatu yang tak adil bagi anak. Cobalah lihat diri Anda dari sudut pandang anak. 

Penelitian terhadap seratus ribu anak menunjukkan, ada 10 hal yang paling diinginkan anak dari orang tua mereka: 

1. Tidak bertengkar di hadapan mereka. Anak selalu mencontoh tindakan orang tua. Apa jadinya jika setiap hari orang tua adu mulut di hadapan mereka? 

2. Berlaku adil terhadap semua anak-anaknya. Setiap anak memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Yang mereka butuhkan bukan perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang adil, sesuai kebutuhan masing-masing anak. 

3. Orang tua yang jujur. Orang tua yang meminta anaknya berbohong, tentu tidak sadar pada apa yang tengah dilakukannya. Sekali lagi, anak mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. 

4. Toleran terhadap orang lain. Toleransi akan mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan. 

5. Selalu menyambut teman-teman mereka dengan ramah. 

6. Mau membangun semangat tim bersama mereka. Kekompakan antar-orang tua dan anak akan sangat berpengaruh saat anak beranjak dewasa. 

7. Mau menjawab setiap pertanyaan mereka. Luangkan waktu untuk mereka. Jika Anda tak mampu menjawab, katakan Anda akan mencari tahu lebih dulu. 

8. Mau mengajarkan disiplin, namun tidak di depan orang lain, terutama teman-teman mereka. Intinya, jagalah perasaan anak. 

9. Lebih melihat sisi positif ketimbang sisi buruk mereka. 

10. Konsisten. Bayangkan, apa yang dirasakan anak jika hari ini Anda menjawab A dan besok menjawab B untuk pertanyaan yang sama yang diajukan anak.


Minggu, 24 April 2011

Trik Menyapih ASI


August28
Menyapih ASI kerap kali merepotkan bagi sang ibu. Anak jadi rewel dan sang ibu kadang merasakan sakit pada payudara karena ASI nya masih produksi namun tidak diberikan kepada sang bayi.
Berikut beberapa trik bagi sang ibu untuk menyapih ASI :
Ada waktu untuk menyesuaikan diri
Ibu berpedoman pada pemberian ASi Ekslusif selama 6 bulan. Bayi diatas 6 bulan sebetulnya sudah bisa disapih. Disapih bukan berarti lepas memberikan ASI sama sekali namun mengurangi pemberian ASI ibu kepada bayi. ASI tetap menjadi asupan utama tapi bayi juga perlu asupan MPASI untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Untuk itu pemberian ASi kepada bayi dikurangi perlahan-lahan agar bayi dapat beradaptasi bahwa sekarang dia tidak sepenuhnya hanya mengkonsumsi ASI saja, namun sudah ada asupan lainnya.
Konsisten
Disapihnya bayi kadang akan menimbulkan nafsu makannya mungkin akan terganggu, anak menjadi rewel. Dengan kondisi ini ubu sering tidak tega ataupun tidak sabar dan akhirnya kembali memberikan hasil. Tentu saja hal ini akan mengganggu proses penyapihan. Untuk itu ibu harus konsisten, kurangi jam-jam pemberian ASi dan berikan MPASI yang lebih bervariasi.
Harus Sabar
Harus sabar ya bu… bila anak disapih tentu anak itu sendiri pun merasa tidak nyaman ataupun merasa ada sesuatu yang kurang untuk itu diperlukan pendekatan psikologis terhadap anak dan kesabaran yang tinggi dari sang ibu. Jangan cepat marah dan menyakiti secara fisik hal ini justru akan membuat anak tidak mau makan ataupun minum sama sekali.
Gantikan minum dengan dot
Ini untuk memberikan kemiripan minum melalui puting susu. Namun jangan sampai anak suka ngedot sampai usia 2 tahun. Usahakan usia 2 tahun  anak sudah tidak minum dengan dot lagi.
Semoga berhasil ya bu….

Penyiksaan dan Pengabaian Terhadap Anak


July16

Oleh Jacinta F. Rini, MSi.
Team e-psikologi
 
Penyiksaan Terhadap Anak  
Semua orang tua pasti sekali waktu merasa marah terhadap anaknya. Mengatasi perilaku anak memang bukan perkara mudah. Hanya dengan bilang “tidak” saja belum tentu dapat meredam sikap yang menjengkelkan tersebut. Dalam menghadapi sikap dan perilaku anak yang menyulitkan tersebut banyak orang tua yang lepas kendali sehingga mengatakan atau melakukan sesuatu yang membahayakan anak sehingga kemudian mereka sesali. Jika situasi ini sering berulang, hal ini yang dikatakan sebagai penyiksaan anak, baik secara fisik maupun mental. Beberapa kriteria yang termasuk perilaku menyiksa seperti :
• Menghukum anak secara berlebihan
• Memukul
• Menyulut dengan ujung rokok, membakar, menampar, membanting
• Terus menerus mengkritik, mengancam, atau menunjukkan sikap penolakan terhadap anak
• Pelecehan seksual
• Menyerang anak secara agresif
• Mengabaikan anak; tidak memperhatikan kebutuhan makan, bermain, kasih sayang dan memberikan rasa aman yang memadai
Menurut pendapat Vander Zanden (1989), perilaku menyiksa dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penyerangan secara fisik atau melukai anak; dan perbuatan ini dilakukan justru oleh pengasuhnya (orang tua atau pengasuh non-keluarga). Menurut data penelitian diungkapkan bahwa penyiksaan secara fisik banyak dialami oleh anak-anak sejak masa bayi, dan berlanjut hingga masa kanak-kanak sampai remaja.
Lain lagi pendapat para psikiater yang terhimpun dalam Himpunan Masyarakat Pencegah Kekerasan Pada Anak di Inggris (1999). Mereka berpendapat, bahwa pengabaian terhadap anak juga merupakan sikap penyiksaan namun lebih bersifat pasif. Efek dari penyiksaan maupun pengabaian terhadap anak sama-sama mendatangkan akibat yang buruk. Untuk mengetahui lebih jelas apa dan sejauh mana dampak dari sikap orang tua yang demikian, Anda dapat melihat pada artikel kami tentang dampak penyiksaan dan pengabaian orangtua terhadap anak.
Pengabaian Terhadap AnakPenyiksaan terhadap anak tidak terbatas pada perilaku agresif seperti memukul, membentak-bentak, menghukum secara fisik dan sebagainya, namun sikap orang tua yang mengabaikan anak-anaknya juga tergolong bentuk penyiksaan secara pasif. Pengabaian dapat diartikan sebagai ketiadaan perhatian baik sosial, emosional dan fisik yang memadai, yang sudah selayaknya diterima oleh sang anak. Pengabaian ini dapat berbentuk :
• Kurang  memberikan perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan anak
• Tidak memperhatikan kebutuhan makan, bermain, rasa aman, kesehatan, perlindungan (rumah) dan pendidikan
• Mengacuhkan anak, tidak mengajak bicara
• Membeda-bedakan kasih sayang dan perhatian antara anak-anaknya
• Dipisahkan dari orang tua, jika tidak ada pengganti yang stabil dan memuaskan (jr)

Kualitas anak kita adalah buah dari hasil asuhan kita


August31
Buruk Cermin Jangan Dibelah
Kualitas dan sikap anak-anak kita adalah buah dari model pengasuhan dan pendidikan yang kita terapkan sehari-hari di rumah. Walaupun kita semua pasti mencintai anak-anak kita, tetapi pada prakteknya apa yang kita lakukan secara praktis kepada anak-anak kita terkadang bukan seperti yang kita niatkan. Niat kita baik, tapi tak jarang apa yang kita ucapkan dan sikapkan kepada anak tanpa sengaja merupakan sebuah hal yang buruk dan mempengaruhi perkembangan kejiwaannya.
Daripada terus mengeluh, menyalahkan anak, atau menyalahkan lingkungan; lebih baik kita melakukan refleksi atas apa-apa yang sudah (bukan sekedar harapan) kita pada anak-anak kita. Dalam refleksi itu, ada baiknya kita mengambil inspirasi kembali dari Dorothy Low Noite (”Children Learn What They Live With”). Thanks Dorothy, it’s so inspiring…
Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan
Jika anak banyak dimusuhi, ia belajar menjadi pemberontak
Jika anak hidup dalam ketakutan, ia selalu merasa cemas dalam hidupnya
Jika anak sering dikasihani, ia belajar meratapi nasibnya
Jika anak dibesarkan dalam olok-olok, ia akan menjadi seorang pemalu
Jika anak dikelilingi rasa iri, ia tak akan puas dengan apapun yang dimilikinya

Jika anak dibesarkan dalam pengertian, ia akan tumbuh menjadi penyabar
Jika anak senantiasa diberi dorongan, ia akan berkembang dengan percaya diri
Jika anak dipuji, ia akan terbiasa menghargai orang lain
Jika anak diterima dalam lingkungannya, ia akan belajar menyayangi
Jika anak tidak banyak dipersalahkan, ia akan senang menjadi diri sendiri
Jika anak dibesarkan dalam kejujuran, ia akan terbisa melihat kebenaran
Jika anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan besar dalam nilai keadilan
Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, dia akan mengandalkan diri dan mempercayai orang lain
Jika anak tumbuh dalam keramahan, ia akan melihat bahwa dunia itu sungguh indah
Semoga kita masih punya waktu untuk dapat memberikan yang terbaik bagi masa depan anak-anak terkasih kita…

Sabtu, 23 April 2011

Sebagai seorang ibu, multitasking atau melakukan beberapa rutinitas dalam satu waktu adalah kelebihan yang kita punya. Tetapi pernahkah kita menyadari, apakah rutinitas yang kita lakukan sudah benar atau belum? Coba telisik bersama, siapa tahu ada kebiasaan multitasking kita yang harus perbaiki.
1. Berbagi tempat tidur dengan anak. Ketika anak-anak masih bayi, menyusui dan mengganti popok lebih mudah dilakukan saat mereka tidur di samping kita. Terlebih di malam hari, kita tak perlu benar-benar terbangun untuk memenuhi panggilan bayi tersayang. Tetapi ternyata rutinitas ini bisa memberi risiko pada bayi kita.
Di Amerika Serikat, kecenderungan berbagi tempat tidur dengan anak mengalami peningkatan. Jika pada 1993 persentasenya hanya 5,5 persen, pada tahun 2000 persentasenya melonjak hingga 12,8 persen. Ini adalah data yang dikeluarkan NationalInfant Sleep Position Study.
Menurut St. Louis University, bayi yang tidur bersama orang tuanya 40 kali lebih sering mengalami cegukan dibanding yang tidak. Mengapa? Posisi menyusui di tempat tidur membuat bayi tidak nyaman, hingga kemudian membuat buah hati kita tersedak.
Itu mengapa, sebaiknya letakkan keranjang tidur bayi di samping tempat tidur kita. Setiap kali tiba waktu menyusui di malam hari, pilihlah tempat duduk yang nyaman. Kenyamanan akan menguntungkan kita dan bayi. Posisi menyusui yang tepat akan membuat bayi menyusui tanpa tersedak, plus kita tak merasa pegal jika menyusui memakan waktu lama.
2. Membuat anak tidur dengan bantuan sebotol susu atau jus. Ini adalah undangan terbuka bagi bakteri untuk menetap di gigi anak kita, ucap Michael Ignelzi, dokter gigi yang juga juru bicaraAmerican Academy of Pediatric Dentistry. Bakteri yang menempel pada gigi sepanjang mereka tidur akan membuat anak kita mengalami sindroma karies botol. Sindrom ini akan membuat gigi bayi kita cepat keropos.
Pada kasus yang sangat ekstrim, Igelzi bercerita, pernah memasang crown atau pelindung gigi pada anak yang masih berumur 23 bulan. Tak tanggung-tanggung, jumlah pelindung gigi yang dipasang adalah 4 buah. “Sebabnya, anak ini selalu tertidur dalam keadaan minum susu atau jus setiap malamnya. Jadi ingatlah untuk membersihkan gusi bayi dengan kapas basah setiap malamnya, sedangkan pada anak yang sudah lebih besar sikat gigi adalah solusinya, terlebih setiap kali habis minum susu atau jus. Sebab kandungan asam di dalam kedua minuman adalah makanan kesukaan bakteri.
3. Membiarkan balita kita menonton acara “smart baby”. Pernahkah kita berpikir bahwa sebenarnya kita memanfaatkan acara televisi atau DVD yang katanya cocok bagi bayi sebagai electronic babysitter? Sebab bayi kita akan menjadi tenang dan kita bisa melakukan pekerjaan yang lain.
Tetapi penelitian yang dilakukan University of Washington menyebutkan, setiap satu jam yang dihabiskan balita dengan menonton acara televisi atau DVD membuat mereka kehilangan 6-8 kata. Sedangkan pada balita yang tak menonton acara sejenis, kemampuan mereka mengingat kata baru lebih baik. Plus, penelitian ini juga menambahkan bahwa televisi dan DVD membuat anak tidak akrab dengan orang tuanya.
Coba ganti acara menonton televisi atau DVD dengan bermain bersama anak. Mulai dari bernyanyi bersama, menggambar, mewarnai, atau bercerita. Bahkan universitas itu juga menyebutkan, hanya dengan bermain blocks bersama balita, mereka jadi mampu mengingat kata baru 15 persen lebih cepat dibanding yang tidak.
4. Menaruh anak di kereta belanja supermarket. Kereta belanja supermarket memang terlihat tidak berbahaya. Tetapi Amerika Serikat mencatat, setiap tahunnya ada sekitar 20.000 anak yang terpaksa masuk unit gawat darurat rumah sakit karena mereka terjatuh dari kereta tersebut.
Kemampuan anak untuk menjaga keseimbangan sangat kecil, sebab mereka baru hanya bisa menahan daya tarik bumi dari dada hingga kepala. Jadi ketika mereka hendak mengambil sesuatu yang berada di bawah kepala mereka, anak-anak akan sulit sekali menahan gravitasi bumi hingga akhirnya terjatuh. Lebih baik gunakan kereta dorong khusus anak-anak setiap kali kita mengajak mereka berbelanja bulanan.
(Prevention Indonesia Online/Siagian Priska)
sumber: kompas.com, Editor: Dini